Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” Syaikh menjelaskan, “Ini merupakan kalimat yang mengandung makna yang luas: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.’”
Kata (حَيْثُمَا) seperti yang kalian ketahui, termasuk bentuk ungkapan yang menunjukkan makna umum. Bahkan ia diiringi dengan huruf (مَا) sehingga semakin menguatkan makna keumumannya. Artinya, kalimat ini mencakup setiap tempat kamu berada; dalam semua itu, kamu dituntut untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kamu juga dituntut bertakwa dalam setiap keadaan yang kamu alami, baik saat terjaga; dalam kondisi berbaring, duduk, maupun berdiri. Demikian pula, baik ketika kamu berada di masjid maupun di luar masjid.
Oleh sebab itu, semakin kuat seseorang merasakan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah.
Saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa kisah tentang orang-orang yang mencapai kesempurnaan, yaitu mereka yang benar-benar merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan mereka, dan memiliki rasa malu yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika saya menyebut mereka sebagai “orang-orang sempurna”, bukan berarti apa yang mereka lakukan pasti sanggup dilakukan oleh semua orang, karena hal itu memang berat. Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkatannya dalam ketakwaan, sebagaimana perbedaan mereka dalam ilmu dan iman.
Di antara kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan tentang Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menyingkap auratnya dalam keadaan apa pun, kecuali karena keperluan yang memang mengharuskan, seperti ketika buang hajat dan semisalnya. Hal ini karena rasa malu beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan pula bahwa apabila beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau menutup kepalanya karena rasa malu. Ini merupakan salah satu bentuk penghayatan akan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, pada keadaan-keadaan yang biasanya manusia lalai darinya.
Demikian pula, terdapat banyak riwayat dari para sahabat—radhiyallahu ‘anhum— tentang sikap mereka dalam urusan-urusan pribadi, seperti ketika tidur di malam hari atau atau kondisi privasi mereka. Semua itu berisi kisah-kisah yang agung dan menakjubkan, yang dapat dibaca dalam kitab-kitab sirah.
Syaikh melanjutkan, pada sabda Nabi, “…di mana pun kamu berada”, adalah penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Ada hikmah tersembunyi dalam kalimat ini, bahwa yang membutuhkan ketakwaan itu adalah sang hamba, yakni kamu sendiri yang membutuhkan ketakwaan tersebut.
Sebab, ketakwaanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat kembali kepadamu, bukan kepada selainmu. Karena Allah Maha Kaya, tidak memerlukan makhluk-Nya, serta tidak memerlukan amal-amal mereka. Sekiranya seluruh penghuni bumi beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau justru bermaksiat kepada-Nya, sungguh ibadah dan kemaksiatan mereka tidak menambah dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun.
Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali tidak memerlukan hamba-Nya. Maka ketakwaanmu, amal-amal salehmu, serta penjagaan dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, semuanya kembali untuk kemaslahatan dirimu sendiri.
Karena itu, Syaikh menaruh perhatian pada hal ini dan berkata, sebagai penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Saat di keramaian, ketakwaan lebih mudah dilakukan, karena seseorang merasa malu kepada orang lain. Sedangkan saat sendirian, ketakwaan lebih sulit dilakukan, karena saat itu tidak ada yang mengawasimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itulah, rasa malu yang sempurna hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, ketika Utsman—menurut adat di zamannya hingga masa yang tidak jauh setelahnya—merasa malu untuk keluar di hadapan manusia dengan kepala terbuka, beliau pun merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membuka kepala saat berada di tempat buang hajat. Jadi, beliau melakukan itu berdasarkan hal tersebut.
=====
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ الشَّيْخُ وَهَذِهِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
حَيْثُمَا كَمَا تَعْلَمُونَ مِنْ صِيَغِ الْعُمُومِ بَلْ قُرِنَتْ بِـ”مَا” فَتَزِيْدُهَا عُمُومًا فَإِنَّهَا تَشْمَلُ فِي كُلِّ مَكَانٍ تَكُونُ فِيهِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُكَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَيَلْزَمُكَ أَيْضًا فِي كُلِّ حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا فِي يَقَظَتِكَ سَوَاءٌ كُنْتَ مُضْطَجِعًا وَسَوَاءٌ كُنْتَ جَالِسًا أَوْ قَائِمًا وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا فِي مَسْجِدٍ وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ خَارِجَ مَسْجِدٍ
وَلِذَا كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مُرَاقِبًا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِ كُلِّهَا كُلَّمَا كَانَ شَأْنُهُ أَعْظَمَ
وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ بَعْضًا مِنْ أَخْبَارِ الْكُمَّلِ مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ رَاقَبُوا اللَّهَ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِمْ كُلِّهَا وَاسْتَحُوا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَالَ الْحَيَاءِ
وَعِنْدَمَا أُعَبَّرُ بِالْكُمَّلِ لَا أَعْنِي أَنَّ مَا فَعَلُوهُ يَسْتَطِيعُهُ كُلُّ النَّاسِ فَإِنَّ فِي ذَلِكَ مَشَقَّةً وَلَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ النَّاسُ فِي التَّقْوَى دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ دَرَجَاتٌ
فَمِنْ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَإِنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ يُظْهِرُ عَوْرَتَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَقَضَائِهِا أَيْ كَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَغَيْرِهَا وَذَلِكَ مِنْ حَيَائِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ عَنْهُ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ غَطَّى رَأْسَهُ حَيَاءً وَهَذِهِ مِنْ صُوَرِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي عَادَةً مَا يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا
وَكَذَلِكَ أَيْضًا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ فِي خَاصَّةِ أُمُورِهِمْ حِينَمَا يَكُونُونَ فِي هَجْدَةِ لَيْلِهِمْ وَفِي حَالِ سِرِّهِمْ مَا فِيهِ خَبَرٌ عَظِيمٌ وَعَجِيبٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُتُبِ السِّيَرِ
قَالَ الشَّيْخُ وَفِي قَوْلِهِ حَيْثُمَا كُنْتَ تَحْقِيْقٌ لِحَاجَتِهِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ هَذِهِ فِيهَا نُكْتَةٌ وَهُوَ أَنَّ التَّقْوَى الْعَبْدُ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُهَا أَنْتَ الَّذِي تَحْتَاجُ التَّقْوَى
فَإِنَّ تَقْوَاكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنْفَعُكَ أَنْتَ وَلَا تَنْفَعُ غَيْرَكَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْ الْعِبَادِ غَنِيٌّ عَنْ أَعْمَالِهِمْ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ جَمِيعًا عَبَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَصَوْهُ فَإِنَّ عِبَادَتَهُمْ وَعِصْيَانَهُمْ لَا يَنْقُصُ وَلَا يَزِيدُ فِي مُلْكِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا
اللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُسْتَغْنِي عَنِ الْعِبَادِ فَتَقْواكَ وَعَمَلُكَ بِالصَّالِحَاتِ وَانْكَفَافُكَ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ إِنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِكَ
وَلِذَلِك الْتَفَتَ الشَّيْخُ لِذَلِكَ فَقَالَ تَحْقِيقٌ لِحَاجَتِهِ أَيْ لِحَاجَةِ الْعَبْدِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ الْعَلَانِيَةُ التَّقْوَى فِيهَا أَسْهَلُ فَإِنَّ الْمَرْءَ يَسْتَحِي مِنَ النَّاسِ وَأَمَّا السِّرُّ التَّقْوَى فِيهَا أَصْعَبُ لِأَنَّ لَا رَقِيبَ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْحَيَاءُ الْكَامِلُ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَلِذَلِكَ عُثْمَانُ لَمَّا كَانَ يَسْتَحِي بِعُرْفِ النَّاسِ فِي زَمَانِهِمْ وَإِلَى عَهْدٍ قَرِيبٍ أَنْ يَخْرُجَ أَمَامَ النَّاسِ كَاشِفَ الرَّأْسِ حَاسِرَهُ فَإِنَّه اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكُونَ حَاسِرَ الرَّأْسِ فِي ذَلِكَ لْمَوْضِعِ فَكَأَنَّهُ أَتَى مِنْ هَذَا الْبَابِ